Tag Archives: komunikasi

Memahami Anak dari Tutur Katanya (Bagian I)

Ketika sang buah hati Anda berusia 10 tahun atau lebih, dari cara anak bertutur kata, sebenarnya Anda dapat mengenali sifat dan karakternya (kepribadian) sang Anak untuk mengetahui gaya komunikasinya, setiap anak tentu memiliki elemen keunikannya masing-masing yang kesemuanya tak luput dari maha karya Sang Pencipta sebagai Sang Arsitek Agung.

Oleh karenanya, untuk mempermudah dalam memilah seperti apakah kepribadian buah hati Anda, kami merangkumnya ke dalam 9 (sembilan) kategori, masing-masing memiliki keunikan tersendiri :):

  1. Anak yang Senang Ketelitian atau Hal-hal Spesifik / Perfeksionis
  2. Anak yang Senang Membantu / Baik Hati
  3. Anak yang Senang Tampil
  4. Anak yang Senang Menggunakan Daya Imajinasi dan Intuisi / Romantis
  5. Anak yang Senang Menganalisa
  6. Anak yang Senang Berpikir kritis
  7. Anak yang Senang Menghibur / Periang
  8. Anak yang Senang Memimpin
  9. Anak yang Senang Ketenangan / Cinta Damai
*Sembilan kategori diatas mengacu dan terinspirasi oleh metode Enneagram.

t1“Si Cerdas Cermat”

  1. Anak yang Senang Ketelitian/Perfeksionis

Anak yang Perfeksionis suka mengkritik dirinya sendiri. Hal ini Ia lakukan untuk mengantisipasi kritikan orang lain terhadap dirinya terlebih dahulu (baik itu orang tua, kakak/adik, saudara, teman atau siapapun). Sesungguhnya Ia tidak terlalu suka dikritik, hal itu membuatnya merasa melakukan kesalahan padahal Ia ingin melakukan segalanya dengan benar.

Kemampuannya dalam mengkritik dan memberi penilaian bahkan terhadap dirinya sendiri membuatnya mampu bersikap “lebih dewasa” dari anak seusianya, Ia senang berpikir akurat dan mampu menempatkan (dengan membayangkan) dirinya sudah seperti layaknya seorang yang dewasa. Oleh karenanya Ia dapat mengeluarkan kata-kata yang saklek atau “straight to the point”  karena ketajaman pola pikirnya itu.

Ketika Ia mengktirik dirinya, Ia berusaha keras menekan emosi negatifnya agar mampu memenuhi harapan orang tua dan guru-gurunya.

Anak yang Perfeksionis sangat menyukai pujian atas usahanya dan arahan bagaimana Ia bisa menjadi lebih baik dari sebelumnya dan lebih terbuka/komunikatf untuk mengeskpresikan perasaannya akan hal yang Ia sukai dan tidak Ia sukai.

t2“Si Malaikat Baik Hati”

  1. Anak yang Senang Membantu

Sedikit mirip dengan Anak yang Perfeksionis dalam hal kritikan. Anak yang Baik Hati pun amat sangat sensitif terhadap penolakan dan kritik. Ia berusaha keras menyenangkan hati orang tuanya dengan menjadi sangat membantu dan pengertian dengan menunjukkan kepatuhan. Ia bisa menjadi sangat ekspresif dan banyak bertanya… atau sangat pendiam dalam lamunannya sendiri… Anak yang cenderung pendiam dan penurut ini sebenarnya bisa jadi sedang memendam perasaan, kebutuhan atau sedang berpura-pura bahwa Ia baik-baik saja karena tidak ingin mengecewakan atau merepotkan orang lain. Hal ini Ia lakukan agar dirinya tetap disukai oleh orang-orang di sekitarnya.

Anak yang Baik hati butuh untuk merasa dimengerti dan diberikan keleluasan untuk menjadi dirinya sendiri disertai arahan yang jelas akan hal yang baik dan yang tidak baik.

t3
“Si Bintang Kelas”

  1. Anak yang Senang Tampil

Berbeda dengan Anak yang Baik Hati, Anak yang Senang Tampil justru tidak terlalu mengkhawatirkan kritikan orang lain, baginya segala kritikan adalah tantangan untuk ia menjadi lebih baik lagi. Anak yang Senang Tampil akan seringkali kita temukan senang terlibat dalam perlombaan atau bahkan membayangkan dirinya sedang berada dalam sebuah kompetisi dengan siapapun (hal ini memicu adrenalinnya!). Ia berusaha keras untuk mendapatkan penghargaan atas apa yan Ia lakukan. Ia Senang menjadi pusat perhatian, aktif di organisasi atau memiliki kesibukan tersendiri dan mampu mengemukakan pendapatnya secara blak-blakan bahkan terhadap orang dewasa karena daya kompetensinya yang tinggi.

Anak yang Senang Tampil butuh diberikan kesempatan untuk membuktikan dirinya. Berikan keleluasaan agar ia mengeksplor segala hal dan arahkan Ia untuk terbiasa berbagi dalam kebersamaan.

t42

“Si Artis Romantis”

  1. Anak yang Senang Menggunakan Daya Imajinasi dan Intuisi

Anak yang Romantis memiliki imajinasi aktif yang sangat tinggi, cenderung sangat peka/sensitif dan intuitif. Ia memiliki dunianya sendiri dan mampu memahami perasaan siapapun atau apapun di sekitarnya karena empatinya yang begitu tinggi. Walaupun demikian Anak yang Romantis seringkali merasa kesepian atau kehilangan sesuatu karena keunikannya itu, ia merasa dirinya berbeda dari anak-anak yang lain dan layak diperlakukan sedikit lebih spesial (dan hal itu terjadi secara alami). Mereka gemar mengasosiasikan diri mereka dengan orang-orang yang mereka kagumi dan dapat memberontak bila dikritik atau disalah mengerti.

Anak yang Romantis dapat sangat terbantu bila didekatkan dengan dunia seni dan seringkali diajak berdiskusi mengenai kehidupan secara luas dengan lingkungan yang beraneka ragam dan tanyakan pendapatnya, hal ini dapat menyeimbangkan toleransinya.

t5

“Si Detektif Cilik”

  1. Anak yang Senang Menganalisa

Anak yang Senang Menganalisa menghabiskan banyak waktunya sendirian, baik itu untuk membaca, mengerjakan hobi, mengoleksi sesuatu dan lain-lain. Ia sangat cerdas dan dipenuhi rasa penasaran akan hampir segala sesuatu dalam hidup ini serta memiliki pikiran yang mandiri (independen). Ia senang menggunakan logika berpikir yang netral, mempertanyakan guru-gurunya serta seringkali menampilkan wajah dingin tanpa emosi agar tak terlihat takut. Ya, seperti layaknya seorang ilmuwan yang haus pengetahuan. Namun, hal ini ia lakukan karena sebenarnya Ia sangat sensitif terhadap perasaan hatinya dan berusaha menghindari konflik pribadi. Anak yang Senang Menganalisa sangat menghargai privasi dirinya dan tak suka dikendalikan atau menurut tanpa alasan (sebab-akibat) yang jelas.

Anak yang Senang Menganalisa serupa dengan Anak yang Romantis dalam hal mempertanyakan kehidupan, luangkanlah waktu untuk Anda mengeksplor seberapa cerdasnya anak Anda. Pelajari bagaimana ia melihat dunia dari sudut pandangnya yang murni, tanyakan pendapatnya mengenai kemanusiaan dan cinta kasih. Arahkan ia untuk mulai memahami realita hidup dan bagaimana sebab-akibat berjalan. Gandeng ia untuk memperbanyak pertemanan dan berkenalan dengan berbagai macam orang dari ebrbagai kalangan, hal ini untuk memupuk kemampuannya dalam bersosialisasi.

T6b

“Si Ilmuwan Ajaib”

  1. Anak yang Senang Berpikir Kritis

Anak yang Senang Berpikir Kritis pada umumnya ramah dan mudah sekali akrab dengan orang lain, mereka dapat diandalkan bila diberikan petunjuk untuk mengerjakan sesuatu. Namun kepatuhannya bisa jadi disebabkan oleh kecemasannya akan hal-hal yang buruk, seperti ketakutan akan bahaya yang dapat terjadi, rasa tidak aman dan sebagainya (walaupun hal-hal itu sebenarnya tidak atau belum terjadi). Rasa cemas yang diikuti keraguan untuk selalu mempertanyakan kepastian dari sesuatu ini biasanya diadopsi dari orangtuanya yang memang pencemas sehingga mereka lebih nyaman menciptakan tim/kubu dengan teman atau orang tua mereka agar mereka merasa lebih terlindungi.

Anak yang Senang Berpikir Kritis butuh merasa terlindungi atau terjamin keamanannya. Berikan arahan agar Ia menjalani segala sesuatunya satu persatu dan biasakanlah terjadi dialog atau saling mendengarkan dan berbicara secara bergantian agar kemauannya yang keras melunak. Belajarlah menjadi jauh lebih tenang dan tertata saat berbicara dengan anak Anda karena Ia mengamati seluruh detil gerak-gerik baik wajah, tubuh serta kebiasaan Anda. Berhati-hatilah karena Ia adalah seorang pemerhati wahid.

 

T7b

“Si Petualang Riang”

  1. Anak yang Senang Menghibur

Anak yang Periang berorientasi pada tindakan dan gemar petualangan, ia menyukai kisah-kisah yang mengasyikkan dan penuh kebebasan, layaknya dongeng anak-anak mengenai perjalanan ke negeri ajaib dan bertemu peri dan bajak laut. Ia cenderung sangat spontan, mudah bergaul dengan orang dewasa dan tidak senang kesendirian. Anak yang Periang akan memilih untuk bersama-sama dengan orang lain ketimbang sendirian walaupun mereka segera menginginkan kebebasan (tidak terikat dengan siapapun) begitu mereka mendapatkannya.

Dalam berkomunikasi dengan Anak yang Periang, tetapkan dengan jelas tata tertib yang berlaku di rumah atau sekolah, misalnya. Jelaskan siapa yang menjadi pemegang keputusan atau pemimpin sehingga Anak yang Periang belajar untuk menyesuaikan dirinya dengan situasi dan kondisi dimana ia berada. Arahkan ia untuk berteman dengan anak-anak yang aktif seperti dirinya, berikan pelajaran secara langsung di alam yang terbuka, bawalah ia berkemah, memancing, kegiatan pramuka, mendaki gunung, dan sebagainya) sehingga ia belajar bagaimana menjadi kompak sebagai sebuah tim dan juga berdamai dengan emosi di dalam dirinya.

 

T8

“Si Bos Kecil”

  1. Anak yang Senang Memimpin

Anak yang Senang Memimpin menunjukkan sikap mandiri sejak kecil dan memiliki energi yang besar, umumnya menyukai aktivitas fisik dan bila sedang bermain bersama teman-temannya Ia mampu mempengaruhi atau memimpin teman-temannya yang lain untuk mengikutinya. Walaupun begitu, Anak yang Senang Memimpin sebenarnya mengambil kendali terlebih dahulu agar ia tidak berada di bawah kendali siapapun. Bahkan untuk menunjukkan semangat juangnya Ia dapat melawan secara verbal atau fisik apabila dihasut.

Anak yang Senang Memimpin membutuhkan kelembutan dan kepastian bahwa semuanya baik-baik saja dan tidak ada yang tersakiti ataupun mau menyakiti dirinya dan orang-orang yang Ia sayangi. Dalam berkomunikasi dengannya, bantu dirinya mengutarakan kekhawatirannya dan harapan-harapannya, arahkan Ia untuk mengatur jadwal bermain dan belajarnya dengan tertib dan tunjukkan bahwa Anda percaya pada dirinya, pada kemandiriannya dan ketepatan waktunya. Hargai kegigihannya, temani dia saat Ia kecewa atau belum berhasil mendapatkan sesuatu. Arahkan Ia untuk memahami bahwa segala hal di dalam hidup terjadi secara alami dan membutuhkan proses dan setiap orang pun terus belajar sama seperti dirinya. Sekali lagi atasi dia dengan kelembutan sehingga Ia mampu lebih mudah memaafkan.

T9

“Si Peri Pendamai”

  1. Anak yang Senang Ketenangan/Suasana Harmoni 

Sesuai namanya, Anak yang Cinta Damai menyenangi segala sesuatunya dalam damai atau ayem-ayem saja dan mereka akan melakukan apa yang dibutuhkan untuk menjaga semuanya tetap baik-baik saja, walaupun tindakan mereka itu lebih kepada bagaimana menjadikan diri mereka sendiri sebagai pihak yang tidak merugikan siapapun ketimbang maju memimpin situasi dan menyelesaikan persoalan dengan segera. Berbeda dengan keberanian yang dimiliki Anak yang Senang Memimpin yang lebih aktif secara verbal dan fisik, Anak yang Pendamai cenderung bersikap diam dan memisahkan diri bila terjadi sebuah konflik. Hal ini dikarenakan Ia merasa opini/pendapatnya tak dianggap penting (walaupun belum tentu demikian), sebenarnya perilaku ini merupakan hasil pertimbangannya yang terlalu beragam (ingat, ia ingin membela kepentingan banyak pihak dan berusaha memenuhi kebutuhan semua orang, win-win solution – Anak Pendamai juga dapat memisahkan diri bila terjadi konflik yang tak dapat Ia hadapi namun seringkali menolak menunjukkan kemarahannya).

Anak yang Pendamai seringkali bingung bagaimana mentransfer pemahamannya kepada orang di sekitarnya dan menjaganya agar terdengar tetap masuk akal. Uniknya, Anak Pendamai cenderung memiliki koneksi emosi yang sangat kuat terhadap bumi.

        Ada banyak cara untuk mengarahkan Anak yang Cinta Damai, karena ia tergolong patuh dan loyal pada aturan yang berlaku di dalam keluarga. Bila Anda mengajarinya satu hal, ia akan menekuninya bila Anda terus memberikan apresiasi. Hal yang paling efekif untuk mengembangkan kemampuan komunikasi dan sosialnya adalah dengan mengajaknya bermain di alam yang luas seperti halnya seorang Anak yang Periang serta melakukan berbagai aktivitas fisik. Ya, fisik. Ajaklah ia agar menjadi lebih spontan dan fleksibel. Tunjukkan Anda menghargai sikap patuh dan dedikasinya namun tunjukkan bahwa ia juga dapat berkontribusi, mendapatkan penghargaan atas ide-idenya dan merasakan hal-hal yang menyenangkan, selayaknya seorang anak-anak. Arahkan bahwa tidak apa-apa untuk menjadi konyol dan menjadi tak terencana untuk sesekali waktu. Biasakan Ia agar terus tertantang untuk menemukan hal-hal baru.


Perlu diketahui bahwa pengembangan sifat dan karakter anak dipengaruhi oleh apa yang mereka lihat, dengar dan rasakan semenjak usia dini, termasuk perilaku orangtua dan kondisi lingkungan terdekatnya, yakni keluarga. Hal-hal inilah yang menjadi dasar penelitian di dalam Enneagram dan mempengaruhi perkembangan sang anak hingga usia remaja dan dewasa. Tentunya untuk lebih mengetahui lebih pastinya sebab-akibat yang membentuk pola komunikasi dan karakter Enneagram Sang Anak diperlukan dialog dengan orangtua Anak secara lebih mendetil.

Advertisements
Tagged , , , , , ,

Kiat #3 : Kembali ke “Basic”

Sebagai pasangan, tentu saja Anda akan menikmati pesta, wisata berdua atau aktivitas menyenangkan lainnya yang dilakukan bersama-sama… bahkan terkadang mem-plonco pasangan anda sekedar untuk bahan candaan.

Tapi pernahkah Anda mengalami hal-hal kecil yang malah ditanggapi terlalu serius? Atau Hal-hal yang seharusnya dianggap konyol malahan jadi sumbu perdebatan yang lebih luas…?

ART300

“Loveinbalance menyadari betapa pentingnya bersikap santun di dalam pergaulan sehari-hari serta memiliki kesadaran lebih terhadap norma-norma tak tertulis ini agar Anda terhindar dari pertengkaran-pertengkaran yang sebenarnya tidak berguna.”

oleh karenanya kami menganalisa beberapa kemungkinan beserta do’s and don’ts nya…

ART301

bila Anda baru habis minum-minum … tetaplah santun

“Kami setuju bahwa dengan menjaga topik pembicaraan hanya pada hal-hal yang simple & menyenangkan saja ketimbang memancing topik-topik mengenai perbedaan antara Anda dan pasangan akan memudahkan terjadinya komunikasi berkualitas diantara Anda berdua secara lebih efektif .”

ART302

saat Ia sedang membicarakan bisnis dan pekerjaannya… tetaplah santun

“Percayalah pada pasangan Anda, percayalah bahwa Ia mampu mengurus bisnisnya. Hormati keputusannya jika Ia menginginkan privasi dan hindari memberikan opini pribadi kecuali hal itu terkait dengan apa yang sudah pernah Anda jalani atau Anda kuasai dengan baik.”

ART303

bahkan ketika seks menjadi pembahasan… tetaplah santun

Yah—kita semua pasti punya sisi liar semacam ini… ya ga?

ART304

bahkan ketika Anda sudah saling akrab mengenal satu sama lain dalam kurun waktu yang lama… tetaplah santun

“Tetaplah santun dan hargai pasangan Anda seperti ketika Anda baru pertama kali mengenalnya atau seperti ketika Anda jatuh cinta padanya untuk pertama kalinya. Mereka yang tidak pernah mengalaminya mengatakan hal itu tidak mudah, tapi mereka yang berhasil melakukannya menyatakan bahwa pengalaman tersebut memberikan perasaan yang sangat luar biasa untuk disyukuri lagi dan lagi. Para pasangan kekasih yang sungguh-sungguh merayakan kebersamaan mereka di setiap waktu sesungguhnya nyata adanya.”

ART305

bahkan ketika Anda tidak menyukai pendapat atau kebiasaan satu sama lain dan bingung bagaimana menyampaikannya… tetaplah santun

“Pahamilah trik “kapan waktunya berbicara”. Pertahankan selera humor Anda. Sudah selayaknya merupakan tanggung jawab Anda berdua untuk menjaganya tetap hidup di dalam hubungan berpasangan.

Stay blessed in a simple soulful love,

– DB & EA –

Tagged , , , , , , , , , , ,

Key #3 : Stick to the Basic

As couples, of course you would enjoy parties, having a trip together or any other fun activities… and sometimes even make jokes towards your partner.

But have you ever experienced having small things that were taken too seriously? Or perhaps things that should have been regarded as fun yet happened to invite small quarrels between both and then seemed to last like forever…?

ART300

and so we examine several cases of do’s and don’ts…

 

ART302

 

ART303

 

ART304

 

ART305

Stay blessed in a simple soulful love,

– DB & EA –

 

 

 

 

 

Tagged , , , , , , , , , , ,

Kiat #2 : Menjadi Dewasa di dalam Sebuah Hubungan Meskipun Keduanya Bersikap Kekanak-kanakan

HEARTSPIRIT - notagame

“Kami berada di dalam sebuah hubungan yang sedang mengalami tantangan namun kami berdua berniat untuk memperbaikinya… Kami yakin pada ikatan emosional yang sudah kami miliki…”

Jika pernyataan diatas disampaikan oleh Anda serta pasangan Anda maka artikel ini penting bagi Anda berdua.

Loveinbalance menerima pertanyaan dari teman, rekan kerja dan keluarga mengenai persoalan di dalam sebuah hubungan, namun yang justru mengejutkan adalah bagaimana pertanyaan-pertanyaan tersebut memberikan pemahaman yang lebih luas lagi mengenai apa yang seringkali menjadi penyebab munculnya tantangan dalam sebuah hubungan (yang saat ini juga kami berikan kepada Anda).

Persoalannya sih, seringkali begini… Kebanyakan orang berpendapat bahwa hubungan berpasangan dilakukan dengan cara cocok-cocokan semata (tapi kita tahu hal itu tidak benar adanya). Ada banyak hal lain yang lebih utama untuk dipertimbangkan… sebelum Anda memutuskan hendak menjalin hubungan serius atau sekedar iseng.

Apa yang seringkali menjadi penyebab utama permasalahan di dalam sebuah hubungan adalah ketidakdewasaan dalam melihat bahwa hal ini bukanlah sebuah permainan. Untuk praktisnya, kami merangkum hal-hal yang dapat Anda lakukan di awal sebagai solusi guna mempertahankan sebuah hubungan:

  • be honest with yourself, then be honest with each other

(Jujurlah pada diri Anda… Anda lebih mampu menerima pasangan Anda apa adanya ketika Anda mampu menerima diri Anda sendiri. Tanpa embel-embel pribadi. Simple!)

  • have the bonding tool: LAUGHTER

(Pergilah menikmati sebuah acara komedi ataupun apa saja yang mampu mengundang tawa bersama pasangan, berhentilah terus-menerus merasakan kecemasan Anda dan mulailah merasa bahagia 🙂 )

  • have your quality time with privacy, be objective on each other’s situation and condition

(Milikilah waktu berkualitas untuk diri pribadi Anda berdua, latih diri Anda untuk menjadi obyektif pada situasi dan kondisi masing-masing, ambil waktu tenang untuk berbicara satu sama lain tanpa perlu mengulang-ngulang kesalahan yang telah lalu… pliss dehhare gene… Sebaiknya Anda juga hindari menerima saran dari luar dan tetaplah berada di saat ini dengan siapa Anda membina komitmen berpasangan. Mampukan diri Anda untuk menjadi mandiri dan mempercayai satu sama lain seutuhnya… karena hal inilah yang mampu menggagalkan seribu satu alasan pemicu pertikaian antara Anda berdua serta membuka jalan bagi solusi yang lebih baik lagi)

  • become friends (again), then become close and become more intimate

(Tentu dong! Siapa lagi yang dapat menjadi teman paling menyenangkan dalam hidup Anda…? Tidak ada hubungan yang kuat bila tak diawali dari hubungan pertemanan yang baik)

  • be PROACTIVE

(Tanyakan kabar pasangan Anda, apa yang mereka rasakan dan apa yang dapat Anda lakukan untuk membuat mereka merasa lebih nyaman/tenang bila memang terjadi sesuatu)

  • be able to trust each other and get to know each other so well

(Tak bisa dipungkiri… hal ini hanya bisa terjadi jika Anda berdua bersedia untuk jujur dan mau membina kebersamaan)

  • be wiser, understand what you both need to get things done (listen more to each other)

(Mulailah membuat rencana yang jelas bila Anda berdua memutuskan untuk hidup bersama. Anda tidak harus punya kemampuan manajemen yang hebat lho, cukup dengan membuat skala prioritas dan konsisten dalam menjalankan rencana tersebut… mulailah melakukan segala sesuatu yang dibutuhkan, satu persatu dengan sikap saling suportif terhadap pasangan. It takes two to tango, anyway)

  • strengthen the bond (such as having a trip together, retreats – but not a superficial trip)

(Romantisme yang berjalan alami, apa adanya… adalah romantisme yang terbaik dalam hubungan percintaan)

  • have a lot of faith and allow it to multiply what you do in life within goodness 

(Hal yang utama adalah memiliki iman yang besar dalam segala hal yang Anda jalani. Hal ini membutuhkan sedikit banyak pemahaman yang lebih luas disertai hubungan yang aktif antara Anda dengan Sang Sumber Hidup)

Stay blessed in a simple soulful love,

– DB & EA –

Tagged , , , , , , , , ,

Key #2 : Know How to be Mature in a Relationship if Both Immature

HEARTSPIRIT - notagame

“We are having a challenge in our relationship but we intend to fix it… Because we believe in the emotional bond that we already have…”

If the statement above is made by you and your partner, then this article is definitely for both of you to read.

Loveinbalance received questions from friends, co-workers and relatives on relationship, yet surprisingly, the questions itself encourages us in gaining better insights on what has often become the problem in many relationships (which we now deliver to you for a convenient reading).

Many people perceived that relationship is done like having a pair-matching game (but we know it is not true). There are many other more important things to consider before you decide whether to have a serious relationship… or simply just for fun. Since there are only two things that would be the base of your intention, either you are being Mature or Immature about it.

The major cause of problems in a relationship is the immaturity in seeing that the relationship is not a game. To sort it out, we summarize what you can do as an early solution in a relationship:

  • be honest with yourself, then be honest with each other

Please do, you are more able to accept your partner as it is when you are ready and able to accept your own self. Yes, it’s that simple!

  • have the bonding tool: LAUGHTER

Go to a comedy show together, stuff that’s going to make you laugh, stop worrying and start being happy 🙂

  • have your quality time with privacy. Be objective on each other’s situation and condition

Have a quiet time to talk with each other, no need for past case repetition. Set aside from seeking outer advices for now and be present with who you are in the relationship with. Remember, an objective mind would foil a thousand of unnecessary reasons that would only trigger conflicts between you and your partner, and also pave the way for better solutions

  • become friends (again), then become close and become more intimate

There can be no strong relationship without each both of you starting it as good friends

  • be PROACTIVE

Ask them how they are feeling today, and what you can do to change that if something happens

  • be able to trust each other and get to know each other so well

Without a doubt, it can only happen if you are both willing to be honest and foster togetherness

  • be wiser, understand what you both need to get things done (listen more to each other)

Begin making clear plans if you decide to live together. You don’t necessarily have to have great management skill, by knowing how to make priorities and be consistent in executing the plan would be enough… And then, start doing everything that is needed, one by one, as you both mutually support each other as a couple. It takes two to tango, anyway

  • keep strengthening the bond (such as having a trip together, retreats – but not a superficial trip)

A natural romance is the best romance in a healthy relationship

  • have a lot of faith and allow it to multiply what you do in life within goodness

The main thing is to have a great faith. It may require a little more understanding into a broader sense of mind supported by an active relationship between you and the Source of Life

And of course,

  • share every experience, together

“No one should be in control in the relationship, you both are partners”

Stay blessed in a simple soulful love,

– DB & EA –

Tagged , , , , , , , , , , ,

Key #1 : Communicate Better with Your Partner

listening

“I TOLD YOU TO LISTEN!!!”

Well, have words like these spoken by you or your partner? After several arguments and debate, whether to decide who’s doing what, who should be responsible for what and how it’s supposed to be done… (before eventually repeating the same end of the conversation again that had not been previously resolved completely).

Things like this causes the mind and body tired, as well as the daily stress that is often considered lightly and become a commonplace by many people which actually would only trigger an even greater debate when both are in the state of fatigue and no longer able to become tolerant.

You need to be careful, this misconception is actually originated from erroneous reception when you communicate with each other that is constantly sustained into a snowball effect, which has reduced the clarity in assessing your partner objectively as it is associated with other things that are still in the stage of “preconceived bias” or “premature judgment”. Therefore, there’s no need to be haste.

Apparently, the cause for all this is SELFISHNESS

Personal ego, immaturity, lack of experience due to young age, trauma and many other things that eventually become fear and dishonesty in undergoing a relationship, triggers the inability to become neither a good listener nor a good messenger.

We do understand this is a sensitive area in a person’s character, so here’s what you can do for your next step in building a better communication; BE SELFLESS + COMMON SENSE

In short, be aware that you are indeed “together” and then learn to simply give respect (LOVE) to others as much or as equal as you respect (LOVE) yourself.

Start from your Self.

Along this is done, you may able to increasingly realize – how your behavior can be affected and may also affect the attitude of others towards yourself – particularly in the life of pairwise, where it takes two people who are equally pleased to see how to live a life in a way that is consistent and complementary in balance without any necessity and confrontation – for both. All problems that becomes challenges are faced with a sincere and simplified mindset, without hassle, without cumbersome and is resolved immediately.

 “You have to be able to be who you are, and if your current self happens to be not very positive at the moment… then that person should be the one who helps you see things in a better way”.

To simplify the explanation above, LOVEINBALANCE summarize it into these practical self-reminders:

  • Be selfless with common sense (train your empathy)
  • There’s no need to rush and start in a relationship too early, you are more obliged to mature-up yourself – first!
  • 70% commitment need to be given from each person yet always put extra into it
  • Good Communication is vital, it is important to being able to talk about your problems
  • There is no such thing as “I don’t have time”, you always “have time” for your loved ones
  • If people want to be in the relationships, they stop being selfish about it
  • If the word “I deserve this and that” still occurs, then probably the current relationship is not the best for you. Then again, take notice what made you think you need to “give and take” in the first place?
  • Be compassionate and always consider each other’s feelings in order for the relationships to function properly
  • Resolve your challenges, resolve it as immediate as you both can

Please consider these reminders and as you start to become more of a good listener, you also able to convey what you truly mean to your partner in a more sincere and better way.

Stay blessed in a simple soulful love,

– DB & EA –

Tagged , , , , , , , , ,

Kiat #1 : Ciptakan komunikasi yang lebih baik dengan Pasangan Anda

listening

“MAKANYA, KAMU DENGERIN SAYA!!!”

Nah, pernahkan kata-kata seperti ini terucap dari Anda atau diucapkan oleh pasangan Anda? Setelah melalui beberapa argumen dan perdebatan sepele, entah itu memutuskan siapa yang mengerjakan apa, siapa yang harusnya bertanggung jawab untuk apa atau bagaimana seharusnya ini itu dilakukan… (sebelum pada akhirnya kembali mengulang ujung percakapan yang sama yang sebelumnya juga tidak terselesaikan secara tuntas)

Hal-hal seperti ini tentu membuat pikiran dan tubuh Anda lelah, seperti halnya stress harian yang seringkali dianggap lalu saja dan menjadi hal biasa oleh banyak orang yang sebenarnya hanya akan memicu terjadinya perdebatan yang lebih besar lagi ketika keduanya dalam kondisi sangat lelah dan sudah tidak mampu lagi untuk bertoleransi.

Anda perlu berhati-hati, kesalahpahaman ini sesungguhnya berawal dari penerimaan yang keliru dan terus-menerus berkelanjutan (snowball effect) yang telah mengurangi kejernihan Anda dalam menilai pasangan secara obyektif dan dikaitkan dengan hal-hal lain yang masih dalam taraf “prasangka bias” Anda pribadi atau “premature judgment”… Karenanya, sebenarnya Anda tak perlu terburu-buru dalam menilai maksud siapapun.

Ternyata, kesemua ini disebabkan oleh Sifat Egois (SELFISHNESS).

Ego pribadi, belum matangnya kedewasaan, kurangnya pengalaman karena usia muda, trauma dan masih banyak lagi hal lainnya yang akhirnya menjadi rasa takut dan ketidakjujuran diri dalam menjalani sebuah hubungan, menyebabkan ketidakmampuan untuk menjadi pendengar yang baik dan juga sebagai penyampai pesan yang baik.

Kami sadar hal ini adalah area yang sensitif di dalam karakter seseorang, untuk mengatasinya inilah langkah-langkah yang dapat Anda lakukan guna membangun komunikasi yang lebih baik; yaitu dengan memiliki Kesadaran akan Kebersamaan (BE SELFLESS + COMMON SENSE)

Singkatnya, berkenan untuk menyadari bahwa hidup ini untuk “bersama”, dalam pengertian sederhana ya.. Anda memberikan respek (Kasih) kepada orang lain sebagaimana Anda merespek (mengasihi) diri Anda sendiri.

Dimulai dari diri Anda.

Seiring hal ini dilakukan maka Anda semakin menyadari bahwa bagaimana Anda bersikap dapat dipengaruhi dan dapat mempengaruhi sikap orang lain terhadap Anda. Terutama sekali dalam kehidupan berpasangan, dibutuhkan dua orang yang sama-sama berkenan untuk melihat bagaimana menjalani kehidupan dengan cara yang selaras dan saling melengkapi secara seimbang tanpa ada konfrontasi dan keharusan. Semua permasalahan yang menjadi tantangan pun dihadapi dengan pola pikir tulus dan sederhana tanpa kerumitan yang berbelit-belit serta diselesaikan dengan segera.

“You have to be able to be who you are, and if your current self happens to be not very positive at the moment… then that person should be the one who helps you see things in a better way”.

“Anda harus menjadi diri Anda sendiri, dan bila diri pribadi Anda saat ini tidak terlalu positif… maka pasangan Anda adalah seseorang yang mampu membawa Anda menuju kebaikan dan melihat segalanya lebih baik lagi”.

Untuk mempermudah penjelasan diatas, LOVEINBALANCE merangkumnya dalam beberapa poin self-reminder berikut ini:

  • Be selfless with common sense (train your empathy)

(Hidup penuh kesadaran akan kebersamaan akan melatih rasa empati Anda)

  • There’s no need to rush and start in a relationship too early, you are more obliged to mature-up yourself – first!

(Kedewasaan mempengaruhi bagaimana Anda mampu bertanggung jawab, matangkan usia dan kedewasaan Anda terlebih dahulu)

  • 70% commitment need to be given from each person yet always put extra into it

(Pastikan Anda siap untuk menerima konsekuensi dan berkomitmen)

  • Good Communication is vital, it is important to being able to talk about your problems

(Ketulusan diatas segalanya bahkan dalam berkomunikasi)

  • There is no such thing as “I don’t have time”, you always “have time” for your loved ones

(Kebersamaan tanpa syarat)

  • If people want to be in the relationships, they stop being selfish about it

(Menjadikan kualitas kebersamaan semakin baik lagi)

  • If the word “I deserve this and that” still occurs, then probably the current relationship is not the best for you. Then again, take notice what made you think you need to “give and take” in the first place?

(Kembali ke prinsip dasar, seberapa tulus dan siapnya Anda berdua sebelum menjalani hubungan)

  • Be compassionate and always consider each other’s feelings in order for the relationships to function properly

(Diatas segalanya… jadilah Kasih dan penuh empati)

  • Resolve your challenges, resolve it as immediate as you both can

(Biasakan kejujuran dalam berkomunikasi agar Anda semakin mampu menguatkan satu sama lain)

Pertimbangkan dengan seksama beberapa poin diatas, ketika Anda mulai menjadi pendengar yang baik dan tulus bagi pasangan maka Anda mampu menyampaikan apa saja yang anda maksud dengan lebih baik lagi.

Stay blessed in a simple soulful love,

– DB & EA –

Tagged , , , , , , , , ,